MotoBike - Buat Erwin Meidya, tampilan Bajaj Pulsar 135 adalah segalanya. Selain bentuknya stylish, tergolong kompak untuk ukuran motor sport.
Selain itu juga harganya ramah bagi mahasiswa. “Ini motor saya beli tahun ini, tetapi agak kecewa dengan performanya,” terang mahasiswa UI Teknik Sipil program ekstensi ini.
Untunglah Erwin bertemu Bonang yang bengkelnya masih satu wilayah di daerah Bekasi. “Jangan tanggung-tanggung, sekalian saja di-stroke-up,” jelas mekanik Muba Motor ini.
Tanpa ba-bi-bu, ide Bonang disambut Erwin. Ini semata-mata untuk menaikkan kapasitas volume silinder hingga 182 cc. “Wah bisa bersaing dengan saudara tua dong,” kekeh Erwin.
Piston yang belum juga terkikis karena motor baru, langsung dibuang untuk diganti seher berdiameter 57,5 mm milik Suzuki Thunder. Pin piston tak perlu mengakali alias bisa langsung masuk karena setang piston pakai Suzuki Shogun 125.
Ini lantaran Bonang melakukan stroke-up hingga 10 mm (5 mm atas dan bawah). Menyesuaikan top piston, dibuatkan paking aluminium setebal 10 mm.
Alhasil perbandingan kompresi mencapai 13,5:1. Bisa setinggi itu karena kepala silinder tak diutak-atik melainkan standar pabrik. Kompensasinya, Erwin kudu isi Pertamax Plus terus. “Kalau nggak, mesin ngelitik dan panas.“
Ada lagi ubahan pada jalur oli untuk mendukung pendinginan mesin. Bonang membuatkan output oli pada bagian bak kopling kanan yang kemudian dihubungkan slang karet langsung menuju kepala silinder.
Selebihnya tinggal membenahi saluran gas buang dengan leher pipa lebih besar berbahan stainless steel. “Knalpot custom made oleh Chuenk dengan label IMS,” papar pria bertubuh bongsor ini.
Saat jajal motor dengan Pulsar 180 DTS-I, Erwin bisa sesumbar di komunitas tempatnya hang-out. “Lima kali main, 3 kali menang,” ujar member P135 Group @ Kaskus (Pegasus) ini.
Selain itu juga harganya ramah bagi mahasiswa. “Ini motor saya beli tahun ini, tetapi agak kecewa dengan performanya,” terang mahasiswa UI Teknik Sipil program ekstensi ini.
Tanpa ba-bi-bu, ide Bonang disambut Erwin. Ini semata-mata untuk menaikkan kapasitas volume silinder hingga 182 cc. “Wah bisa bersaing dengan saudara tua dong,” kekeh Erwin.
Piston yang belum juga terkikis karena motor baru, langsung dibuang untuk diganti seher berdiameter 57,5 mm milik Suzuki Thunder. Pin piston tak perlu mengakali alias bisa langsung masuk karena setang piston pakai Suzuki Shogun 125.
Alhasil perbandingan kompresi mencapai 13,5:1. Bisa setinggi itu karena kepala silinder tak diutak-atik melainkan standar pabrik. Kompensasinya, Erwin kudu isi Pertamax Plus terus. “Kalau nggak, mesin ngelitik dan panas.“
Ada lagi ubahan pada jalur oli untuk mendukung pendinginan mesin. Bonang membuatkan output oli pada bagian bak kopling kanan yang kemudian dihubungkan slang karet langsung menuju kepala silinder.
Selebihnya tinggal membenahi saluran gas buang dengan leher pipa lebih besar berbahan stainless steel. “Knalpot custom made oleh Chuenk dengan label IMS,” papar pria bertubuh bongsor ini.
Saat jajal motor dengan Pulsar 180 DTS-I, Erwin bisa sesumbar di komunitas tempatnya hang-out. “Lima kali main, 3 kali menang,” ujar member P135 Group @ Kaskus (Pegasus) ini.
Data Modifikasi
Piston: Suzuki Thunder 125 (57,5mm)
Setang Piston: Suzuki Shogun 125
Paking Aluminium: 10 mm
Karburator: Keihin PE28
Knalpot: Stainles Steel Free Flow by Chuenk
Piston: Suzuki Thunder 125 (57,5mm)
Setang Piston: Suzuki Shogun 125
Paking Aluminium: 10 mm
Karburator: Keihin PE28
Knalpot: Stainles Steel Free Flow by Chuenk
Tidak ada komentar:
Posting Komentar